Tak terasa usia Mona telah mencapai 7 tahun. Konsentrasi kerja ibunya di sebuah hotel Internasional di Jakarta agak terganggu karena Mona sering mengalami batuk, pilek, disertai suhu badan meninggi. Sebentar saja, lalu kambuh lagi. Keadaan ini berlangsung berulang kali selama 5 bulan. Kadang ia mengeluh perutnya sakit. Kemudian ibunya menggosok dengan balsam, mungkin saja ia hanya masuk angin.
Kemudian tibalah hari naas itu : Mona mengalami kecelakaan, terjatuh dari ayunan di halaman sekolah. Berdua bersama kawannya yang ikut bermain ayunan tersebut Mona tertelungkup, kawannya terlentang. Karena kesakitan pada bagian kepala, anak itu menangis tapi Mona tidak, hanya sikunya saja yang cedera. Tak ada keluhan lagi.
Dua hari kemudian, selesei mengerjakan PR, Mona mengeluh perutnya kurang enak. Ketika ibunya menyuruh Mona untuk tidur, dan mengenakan pakaian tidurnya, ibunya melihat sesuatu yang aneh - ia merasakan adanya benjolan keras diperut Mona. Kemudian ibunya menceritakan hal ini ke ayahnya. Keesokan harinya Mona dibawa ke RSCM Bagian Anak. Awalnya mereka berpikir bahwa Mona hanya akan mendapat resep dokter. Tahunya Mona harus dirawat di RSCM itu hari itu juga. Diduga ada tumor diperut Mona dan harus dibedah untuk mengetahui ganas tidaknya tumor tersebut.
Mereka berdua selaku orang tuanya tentu saja terkejut sekali. Mimpi pun tidak bahwa anak mereka yang masih semuda itu disinggahi oleh penyakit yang menakutkan. Dua hari kemudian, Mona mengalami pembedahan yang pertama. Hasilnya membuat sendi tulang kedua orang tuanya lemas seketika. Monalisa menderita tumor ganas pada indung telur sebelah kiri. Gumpalan tumor yang dikeluarkan saat itu sebesar jeruk sunkist.
Mama ada yang menjemputku
Bulan berganti bulan, menjadi tahun. Hampir 3 tahun sudah sejak mereka mulai mengetahui penyakit Mona. Tenaga, pikiran, dan biaya banyak sudah dihabiskan. Tapi mereka tidak pernah mengeluh. Untuk mempertahankan nyawa putri mereka satu-satunya, apapun akan mereka lakukan.
Mei 2011... Keadaan Mona sudah sedemikian gawatnya. Dia hanya mampu duduk atau beralan sebentar. Lebih banyak terbaring di tempat tidur. Wajahnya mengalami perubahan - tampak peyot seperti wajah orang lansia. Sinar matanya juga lain - tajam, tidak lagi lembut dan ramah seperti biasa.
Setelah menjelaskan panjang lebar pada kedua orang tua Mona, dokter tidak memberikan obat lagi. Merasa tidak pernah diajak berobat lagi, Mona bertanya, "Ma, kenapa Mona sudah tak diobati lagi?"
Pada suatu malam Ibu Nani jatuh tertidur karena kelelahan, tiba-tiba Mona berteriak "Mama.. mama.. mengapa begitu banyak orang di kamar sebelah itu? Kurang ajar sekali mereka semua. Malam-malam begini bikin ribut. Mona tidak bisa tidur. Usir mereka semua Ma." Maka begitu Mona tertidur Ibu Nani mengambil air wudhu untuk sholat tahajud, "Ya Tuhan seandainya kau inginkan anakku sembuh, maka sembuhkanlah segera. Tapi apabila Kau menginginkan sebaliknya, jangan biarkan anakku menderita terlalu lama."
Permintaan terakhir
Hari itu Mona meminta untuk menonton film kegemarannya. Tapi ibunya melarang Mona agar Mona cukup istirahat untuk penyedotan penyakitnya keesokan hari. Ibu Nani pun tertidur pulas setelah shalat tahajud. Tiba-tiba entah doriongan apa yang membuat Ibu Mona menjadi siaga. Ia mempertajam pendengarannya - napas Mona tersengal-sengal. Terdengar begitu berat. Ia segera duduk memandangi anaknya. Cepat ia memanggil ayah Mona yang saat itu baru saja pulang kerja dan tengah membuat kopi di dapur.
Segera ayah Mona masuk kamar. Duduklah ia di mulut kasur tepat disamping Mona berbaring. Dengan tenang ia membisikkan Surat Yasiin ke telingan Mona. Detik demi detik berlalu dengan penuh ketegangan.. antara percaya dan tidak percaya..
Mereka berdua bersama-sama menyaksikan kepergian anak tunggal mereka. Hampir bersamaan dengan hembusan napasnya yang terakhir, di kedua sudut matanya bergulir butir-butir air mata "Anak kita telah tiada Ma.." bisik ayah Mona.
Bersama-sama mereka melafadzkan "Innalillahi wa innailaihi rajiun," setelah terpaku beberapa saat. Begitu muda Monalisa, belum lagi genap 10 tahun, namun begitu banyak sudah penderitaan yang harus ditanggungnya.
Tinggallah mereka berdua saja. Monalisa yang layu sebelum berkembang telah tiada, meninggalkan gurat kepedihan yang tak terhingga. Tetapi apabila mereka terlalu larut dalam duka, mereka teringat sebuah sajak yang dibuat Mona 11 hari menjelang kepergiannya.
bingkai indah di kamar Mona
Pesan Buat Papa dan Mama
Papa.. Mama..
Tidak usah berdoa terlalu banyak..
Mona merasa..
Umur Mona tidak akan lama lagi
Maut sudah menjemput Mona..
Kalau napas Mona
Tinggal satu-satu
Relakan Mona
Pergi dengan tenang..
Ku selalu sayang Mama dan Papa..
Makassar, 16 Juli 2001